Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Tuesday, January 19, 2010

Mbah Gendeng

Mbah gendeng apa kabar? hadir ngga yah si mbah gendeng. Saya mau bercerita soal mbah gendeng yang satu ini. Benarkah dibalik nama mbah gendeng, orangnya emang gendeng :D. atau itu hanyalah sebuah nick on the net. Yang jelas nama mbah gendeng udah familiar banget di jagat blogosphere ini berkat kontes SEO yang ia adakan. Kontes SEO itu adalah sebagai rangkaian perayaan hari ulang tahunnya yang jatuh pada tanggal 21 januari 2010. Dan kontes SEO dengan keyword Mbah Gendeng itu sendiri akan berakhir tepat pada hari ulang tahunnya tersebut.

Aturan mainnya cukup sederhana. Biarpun sederhana yang penting bisa dipercaya membayar hadiahnya dengan tepat waktu. Hanya dengan menaruh sebuah skrip gambar ke dalam artikel kontes mbah gendeng tersebut. Just it !!!

Hadiahnya juga sangat sederhana yaitu :

pemenang 1 dapet duit 450 ribu
pemenang 2 dapet duit 250 ribu
pemenang 3 sampai 5 dapet batu akik + minyak buluh perindu
door prize sebanyak 3 orang
nb: batu akik boleh minta di khususkan buat apa (misal pengasihan, wibawa dsb)

Yang penting sanggup memberikan hadiah itu kepada para pemenang yang telah susah payah kerja ekstra mengikuti kontes SEO tersebut.

Ok deh sukses aja yah, junjung tinggi sportivitas. Berhubung kontesnya udah hampir finish, say coba sundulin dulu Mbah Gendeng ah... :)

Saturday, September 19, 2009

Selamat Lebaran Idul Fitri 1430 H

Ramadhan telah pergi. Semoga hati kita kembali suci dan semua dosa-dosa kita dihapuskan Allah SWT. Pancallok selaku direktur utama, penulis, pemikir, penyusun blog ini, hihihi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Minal aidzin wal faizin, mhon maaf lahir batin.

kartu lebaran
Saya juga memohon doanya agar bisa berjalan mulus di kontes SEO Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang.

Tuesday, August 11, 2009

Boys Before Flowers Episode Terakhir

Sebenarnya saya malas banget ngebahas serial drama F4 from Korea ini. Saya juga jarang nonton serial Boys Before Flowers ini, cuman sekali-kali aja. Itupun kalau udah ngga ada acara yang menarik lagi jadi dengan terpaksa nonton serial saduran dari komik populer dari Jepang - Hana Yori Dango. Tapi Boys Before Flowers akhirnya aku posting juga.

Ada alasan memposting berita mengenai Boys Before Flowers, alasannya udah ada di judul postingan di atas. hehehe...

Buat para penggemar Boys Before Flowers mending ngga usah dengan setia menanti episode-episode jablai ntu. Kan udah ada sinopsis cerita episode terakhirnya yang beredar di Internet. Kalau disuruh pilih yang mana bagus Meteor Garden atau Boys Before Flowers saya tetap berpihak ma Tao Ming Tse dkk, wkwkwkwk...

Buat para pencinta Boys Before Flowers silahkan berkunjung di blog ini http://3dogawa.wordpress.com/2009/07/28/boys-before-flower-%E2%80%9Cepisode-terakhir%E2%80%9D/ buat liat cerita sinopsis episode terakhir Boys Before Flowers.

Dukung Pancallok di kontes SEO kenali dan kunjungi objek wisata di Pandeglang

Tuesday, July 7, 2009

Hasil Pilpres (Pemilihan Presiden) 2009 RI

Hasil Pemilihan Presiden 2009 - Hasil Pilpres 2009

Hari ini adalah Hari pemilihan Presiden (pilpres) 2009. Semua berbondong-nondong ke TPS untuk memilih presiden RI periode 2009-2014. Tadi pagi aku sudah bersiap-siap buat nyontreng dan slalu saja tidak bisa meninggalkan kebiasaan burukku telat bangun. Pas jam 11, tinggal 2 jam lagi TPS tutup. Bergegas mandi dan sarapan, karena penasaran dengan berita terbaru seputar pilpres 2009 ini, aku coba nyalain TV. Aku kaget...

Ada apa ini, TPS belum tutup sudah ada hasil pilpres 2009. Walapun masih sementara, tapi ini ganjil. Orang-orang masih sibuk nyontreng, TPS belum tutup kok udah ada hasilnya yah. Kenapa dengan salah satu TV swasta itu. Hebat banget mereka. Pake ilmu apa sih, penghitungan suara belum dihitung, ini sudah ada hasil pilpres 2009 sementara. Hebat benar tuh Quick Qount...

Quick qount sudah memberikan kita berita kecuranganya sendiri, masa TPS belum tutup, surat suara belum dihitung, udah ada hasil pilres 2009 nya. Inikan bisa mempengaruhi masyarakat yang menonton di TV yang masih sibuk di rumah belum pergi memilih. Mereka berpikir, ouh sudah ada hasilnya, itu aja yang dipilih ah karena sudah pasti menang. Bagaimana jadinya tuh, apalagi budaya masyarakat kita kan kayak gitu, ikut-ikutan...! Seperti yang diutarakan bang Sujiwo Tedjo tadi di salah satu TV swasta. Katanya, Di Indonesia itu "banyak bebek daripada elang".

Tapi yang jelas, apapun hasil pemilihan presiden (pilpres) 2009 ini, harus tetap aman dan damai. Tidak ada konflik. Hope You JK...!


Tuesday, June 2, 2009

Kenapa Postingan Bisa Hilang

Pagi ini betul-betul menjengkelkan, satu postingan terbaruku yang saya buat kemarin kok bisa hilang. Ada apa yah, apakah ada ulah hacker jahil? tapi kalau dipikir-pikir lagi kok hackernya amatiran banget, cuma menghapus satu postingan saja, kenapa ngga sekalian dihapus semuanya saja. Atau mungkin juga karena kekhilafanku menghapus sendiri postingan saya itu. Tapi juga ngga benar karena saya belum membuka blog saya semenjak postingan terakhirku itu.

Postingan saya itu mengenai download lagu terbaru Linkin Park - New Divine mp3. Padahal postingan ini sangat banyak yang nyari di om google. Coba aja cari kata kunci ini linkin park new divide, download linkin park new divide, download lagu new divide, new divide, dan masih banyak lagi, pasti berada di urutan pertama. Sungguh tidak mengenakkan, pagi yang cerah tidak secerah hatiku hari ini. Sebenarnya saya bisa menulis ulang lagi tapi saya masih kecewa, mungkin besok-besok aja dulu, Saya masih harus mempelajari kejadian aneh ini. Harus bertanya ke om google dulu nih. Atau buat teman-teman lainnya mungkin bisa ngasih info bagaimana cara mengembalikan postingan yang terhapus di blog.



Saturday, May 16, 2009

Apresiasi di Malam Yang Panjang

selamat ulang tahun
Aku tak tahu harus memulai dari mana, tentang sebuah apresiasi basi, tentang sebuah manifestasi. Di kepalaku sudah tersimpan jutaan rangkai kata, mungkin saking banyaknya jadi saling kusut hingga susah tuk dikeluarkan. Kusisihkan waktuku untuk malam, malam yang sudah lama kunanti. Malam di bulan Mei. Kini tinggal 2 hari, jatah hidupmu berkurang setahun lagi. Yang menurut orang hari yang sakral. Yang menurutmu hari yang spesial.

Kembali kepermasalahan awal, apa yang harus kutulis. Kertas ini masih putih bersih. Inspirasi apa lagi. Semua sudah ada di kepala. Ayo keluarkan Panca. Mungkin lewat sebuah puisi cinta, ah tampaknya sudah basi. Aku tahu kamu. Sosok to the point. Tak perlu basa basi. Biasa aja lagi. Hmm, kata-kata yang biasa kamu keluarkan.

"Sayang aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Akulah si telaga, berlayarlah di atasnya. Berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma. Berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya. Sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja. Perahumu biar aku yang menjaganya."


Tuesday, April 28, 2009

Flu Babi Mengancam Dunia

Virus flu babi atau nama kerennya swine flu akhir-akhir ini menjadi wacana publik dimana-mana. Setelah dihantam dengan virus flu burung kini dihadapkan lagi virus yang tak kalah mematikannya yaitu virus flu babi. Saya juga belum tahu apakah di Indonesia juga sudah ada yang terjangkit. Yang aku tahu, penyakit ini menjadi wacana publik yang asal mulanya dari negara Meksiko. Sudah ribuan orang di negara latin tersebut yang terjangkit dan sekitar 80an sudah meninggal akibat virus swine flu ini.

Virus ini (flu babi) bisa menyebar dengan cepat karena tidak ada seorang pun yang mempunyai kekebalan alami dari virus ini.

Saya jadi teringat pesan Nabi Muhammad kepada umatnya bahwa jangan sekali-sekali mendekati seekor babi apalagi memakannya. Hewan itu najis menurut ajaran Islam. Hehehe. Mudah-mudahan di Indonesia tidak tersebar virus mematikan itu. Amin, mari kita selalu hidup dalam lingkungan yang bersih dan sehat. Agar tidak gampang terkena penyakit.


Saturday, April 18, 2009

Politisi Busuk Tertawa Lebar, Pemilih Busuk Juga Ikut Tertawa

politisi busuk

Sudah seminggu lebih pemilu 2009 berlalu, sebuah pesta demokrasi rakyat 5 tahun sekali. Pemilu 2009 kali ini lebih berkesan menurutku dibanding pemilu 2004 lalu. Banyak sekali unek-unek yang membekas. Kadang lucu, kadang menegangkan, kadang menyeramkan. Dengan perubahan sistem yang baru dimana kalimat "suara terbanyak bos" mengiang-ngiang di lorong-lorong.

Tapi dengan sistem yang baru itu, membuat para politisi busuk yang kerjanya datang, duduk, diam, duit tertawa lebar. Dengan limpahan uang, mereka mampu membeli suara dengan entengnya. Buktinya di daerahku, banyak sekali para caleg incumbent dengan status politisi busuk kembali berpeluang masuk dengan torehan suara yang signifikan. Kemudian para caleg incumbent yang bersih memiliki suara yang sangat minim. Entah ada apa dengan masyarakat kita. Nyata-nyata sudah sering masuk di koran dengan berbagai kasus mark up lah, KKN lah, adu jotos lah. Masih juga dipilih. Di koran sudah terpampang foto-foto mereka dengan jelas, dengan berbagai berita yang merugikan rakyat dan tentunya negara. Tapi kenapa ?

Aku heran dengan negeri ini, parlemen sudah hilang kehormatannya. Katanya ingin memperbaiki sistem pemerintahan. Namun rakyat tampaknya tetap masih apatis. atau mungkin sudah alergi. Atau mungkinkah juga terjangkit virus yang sama? Menjadi pemilih busuk.


Sunday, April 12, 2009

Hasil Pemilu 2009 Di Sulawesi Selatan

Hasil pemilu 2009 di Sulawesi Selatan untuk sementara masih dimenangkan oleh Partai Golkar. Namun kemenangannya tidak mencolok seperti pemilu 2004 lalu. Saya juga merasa heran dengan torehan Partai Demokrat yang melejit pesat naik tiga kali lipat dari pemilu 2004. Seperti kita ketahui, jika di Sulawesi Selatan ini adalah salah satu lumbung suara Partai Golkar namun mungkin berkat "gaya dan retorika" pak SBY yang mampu menghipnotis masyarakat Sulawesi Selatan hingga mereka berbondong-bondong mencontreng Partai Demokrat.

Patut untuk diakui bahwa wacana Jusuf Kalla For President tak berhasil dicerna oleh masyarakat Sulawesi Selatan. Yang notabene pak JK adalah putera daerah dan salah satu tokoh Sulawesi Selatan yang berpengaruh. Partai Golkar tidak mampu mempertahankan perolehan suara yang signifikan di "kandang sendiri". Kadang saya juga berpikir apakah ini cuma bagian strategi politik untuk mendongkrak suara Demokrat Golkar atau entah bagaimana.

Hasil pemilu 2009 di Sulawesi Selatan untuk lebih jelasnya bisa anda klik persentase partai-partai politik di bawah ini [Update 12 April 2009]:

DPD Sulawesi SelatanDPRD SULSELDPRD MakassarDPRD Makassar



Saturday, March 21, 2009

Baliho Itu Saling Berdebat

baliho caleg
Pagi yang dingin. Aku kembali embuskan nafasku. Hawa tubuhku menyelimuti semua yang aku lewati. Anak-anak manusia masih banyak yang terlelap dengan mimpi indahnya. Terlalu nyenyak untuk bisa merasakan nafasku. Sebagian lagi sudah memulai aktifitasnya. Mencari rezeki di tengah kerasnya kehidupan pantang menyerah. Aku sangat menghormati manusia seperti itu. Seandainya bisa, aku tidak akan membekukan mereka dengan embus nafasku. Pasti.

Aku melanjutkan perjalananku. Di sudut jalan itu. Aku melihat beberapa bocah sedang menjajakan koran. Aku juga menghargai usaha mereka. Bocah-bocah bertelanjang kaki. mereka tahu bahwa halal lebih baik daripada haram. Punya harga diri untuk tidak meminta , Salut. Aku berbelok ke kanan, kulihat beberapa manusia sedang menunggu angkutan umum. Sementara supir-supir angkutan umum berebut untuk mendapatkan penumpang. Kasar, kadang-kadang mereka tidak mengindahkan kenyamanan calon penumpang. Terus saja maju, mundur lagi, maju lagi, mundur lagi. Aku pusing melihat angkot-angkot itu. Bisa kubayangkan, bagaimana tersiksanya manusia-manusia yang ada di atas angkot itu.

Aku mengalihkan pandanganku. Samar-samar aku mendengarkan baliho-baliho di sisi kiri ruas jalan itu berdialog. Mungkin lebih tepatnya sedang berdebat. Aku penasara, lalu kudekati mereka melalui embusanku. ternyata aku tidak salah. Mereka memangsedang mengumandangkan lagu partai. basi, Cuma berisi janji-janji yang entah kapan bisa ditepati.Tapi aku tetap saja tertarik. Ingin lebih mengetahui apa yang sedang mereka perdebatkan. "Hai..! Apa yang sedang kalian perbincangkan?" Aku berembus sambil tersenyum dan mulai menyapa mereka. "Apa urusan kamu?" Salah satu baliho itu sinis memandangku. "Aku memang tidak punya urusan denganmu. tapi aku ingin tahu apayang sedang kalian debatkan". Aku menatapnya. "Bukankah setiap perdebatan itu butuh seorang moderator?". baliho-baliho yang lain mengangguk. Rupanya mereka jauh lebih pintar daripada baliho wanita yang tadi sinis kepadaku. atau mungkin dia takut debatnya aku patahkan. "Dia benar. Dia bisa jadi moderator kita. bagaimana teman-teman?" Baliho yang tampak bijaksana itu berpaling ke baliho lainnya. "Setuju! Setuju!" Mereka serentak mengamininya.

"Nah, sekarang aku mempersilahkan Anda!" Aku menunjuk baliho yang tadi membeku. "Aku cuma ingin mengatakan bahwa aku caleg yang tidak mau main kotor. Tidak mau sikut sana sikut sini. Kita bersaing secara sehat sajalah". Dia mulai membuka debatnya. "Sebenarnya, bukan masalah siapa yang menang atau salah, tapi bagaimana kita berbuat, untuk memberi yang terbaik". Aku tertegun mendengarnya. "Masih adakah manusia yang tulus berpikir seperti itu?" batinku.

"Akh, omongan seperti itu sudah basi. Rakyat sudah "kebal" dengan kalimat seperti itu". Baliho bergambar wanita itu sinis. "Kalau menurut kamu?" Aku berbalik ke arahnya. "Aku tidak mau terlalu muluk mengumbar janji. Aku hanya ingi melihat rakyat sejahtera, tidak seperti saat ini. Begitu banyak pengangguran. Begitu banyak kebodohan". Aku tertawa dalam hati. Mungkin beberapa di antara mereka tidak tahu. Atau mungkin pura-pura tidak tahu. Bahwa apa yang dilakukan mereka itu, kadang-kadang juga jadi semacam pembodohan dalam masyarakat. Slogan-slogan yang menempeli mereka, apa itu bukan suatu proses pembodohan. Tapi aku diam saja. Percuma berdebat dengan mereka. Lebih baik aku jadi saksi perdebatan mereka saja. Suatu perdebatan yang konyol menurutku.

"Apa yang kamu sampaikan itu juga sudah basi". Baliho lainnya menimpali. "Itu sudah sering diagung-agungkan". "Jadi?" Si baliho wanita tadi menoleh ke belakang. Dia melihat baliho wanita yang lebih muda darinya. "Maksud saya, harus ada pembaruan ide. Itulah gunanya caleg-caleg muda ikut meramaikan blantika pemilihan wakil rakyat". Baliho itu masih muda, tapi dia begitu tenangnya menghadapi debat ini. Memang umur bukan jaminan kecerdasan seseorang ataupun pengalaman hidup. "Kalau begitu apa keinginan kamu dalam kompetisi ini?" Baliho lelaki bertampang bijak itu menatapnya. "Aku ingin mengubah sistem kita. Terlalu banyak sistem yang perlu ditambal". "Maksud kamu?" Serentak baliho-baliho yang lain. "Ya, sistem pemerintahan kita, termasuk oknum-oknum yang bermain di dalamnya. Yang harus diperbaiki lebih dahulu adalah sistem itu sendiri. Sistem yang memberi banyak peluang buat melakukan manipulasi di sana-sini. Yang memberi jalan buat orang-orang bermain di dalamnya". Beberapa baliho yang ada di sudut jalan itu menganguk-anggukkan kepalanya. Entah itu anggukan mengerti. Atau anggukan bahwa yang dikatakan baliho wanita muda itu benar adanya.

"akh kamu terlalu naif untuk berbcara tentang sistem. "Ya beginilah keadaanya negara kita. Sudah bobrok dari dulu. Sekarang, dan mungkin akan semakin bobrok". Baliho wanita sinis itu ngotot. "Tapi setidaknya ada yang berusaha memperbaikinya". Baliho pria yang ada di sisi baliho wanita muda mencoba mengeluarkan pendapatnya. "Memperbaiki? itu sama saja bunuh diri". Kamu seperti tidak tahu situasi di negara kita ini." Baliho lelaki setengah baya yang tadi cuma diam akhirnya ikut membela baliho wanitu sinis itu. "Beginilah Indonesia, kalau mau selamat ya cari aman saja". "Tidak seperti itu. Walaupun kita tahu bahwa Indonesia sudah seperti ini, setidaknya kita berusaha memperbaikinya. Itulah mengapa kita berkumpul di tempat ini. Bersama, bersaing secara sehat. Dengan visi dan misi partai kita". Baliho yang tampknya bijak, yang tadi terdiam akhirnya buka suara lagi. "Iya memang, tapi kita jangan lupa bahwa di antara kita ini, ada yang hadir hanya karena memiliki kelebihan materi atau pendukung. Bukan karena mampu". Baliho wanita sinis itu melirik beberapa baliho yang ada di sisi kiri dan kanannya.

"Kamu jangan sembarangan kalau berbicara. Jangan sampai menyinggung seperti itu. Bagaimanapun, masyarakat sekarang sudah banyak yang cerdas. Mereka bisa menilai. tahu mana yang benar-benar punya skill. Mana yang sekedar numpang wajah atau nama". Sebuah baliho yang hampir rubuh ikut memberi komentarnya. "Apa kamu merasa tersinggung dengan perkataanku". Baliho wanita sinis itu semakin mempertajam debatnya. "Bukan begitu, kita pasti sudah bisa menebak kemampuan kita masing-masing dan alasan mengapa kita ada di sini". Baliho yang hampir rubuh itu menjawab dialog dengan tenangnya. Meski hampir rubuh tapi aku bisa melihat semangat di wajahnya. "Sudahlah, kita tidak usah mencari sisi buruk kita. Apalagi dengan alasan untuk bisa saling menjatuhkan". Baliho lelaki bijak itu menengahi suasana yang mulai panas. "Kita masih d sini, masih berada di jalan untuk meraih simpatik. Kita belum ada di gedung dewan. Jadi kenapa kita harus saling menjatuhkan. Sekarang lebih baik kita tersenyum, biar siapapun yang melihat kita akan simpatik dan akhirnya memilih kita". Baliho wanita sinis itu mengiyakan pendapat baliho lelaki bijak itu. "Bagaimana teman-teman?, "Setuju, setuju, setuju!!!" baliho-baliho itu serentak berteriak.

Aku cuma diam menyaksikan mereka. Lalu aku berpikir, apa gunanya aku sebagai moderator. Pertamanya saja aku dianggap. Setelah itu?Aku seolah tidak ada di hadapan mereka. Apa karena aku hanya angin?. tapi apa penghormatan itu harus melihat siapan dan mengapa? Atau status yang melekat di baju kita. Haruskah aku harus menjadi angin yang besar, agar mereka sadar bahwa aku ada. Dan aku punya pendapat.

Aku marah. Tersinggung dengan perbedaan status, Atau apalah istilah yang mereka gunakan untuk itu. Aku berubah jadi angin besar tanpa aku sadari. Aku berembus kencang. Menumbangkan semua yang ada di sekitarku. Termasuk baliho-baliho itu. Mereka berjatuhan ke tanah. Setidaknya aku telah memberi pelajaran pada mereka untuk selalu waspada. bahwa mereka bisa tumbang. Di mana saja, kapanpun itu. Karena dalam politik, kita tidak tahu siapa lawan dan siapa kawan yang sejati. Mudah-mudahan mereka menyadari itu. Bahwa itulah dunia politik yang akan mereka masuki. Dunia yang di dalamnya begitu banyak warna. Begitu menyilaukan mata dan bisa membutakan nurani.


Monday, March 2, 2009

Seandainya Mereka Tahu


Pagi ini aku nongkrong di pertigaan jalan A. P. Pettarani, salah satu jalan protokol di kota Makassar. Sama saja seperti kemarin, aktifitas yang terus berulang tiap hari. Aku lihat anak sekolah berseragam putih merah dengan ceria saling canda bersama teman-temannya berjalan kaki menuju sekolahnya. Baru jam 7 kendaraan yang lalu lalang padatnya bukan main. Macet lagi macet lagi. Suara klakson mengiung-ngiung. Mungkin mereka kesal nanti telat sampai tujuannya. Orang kantoran sudah pasti lebih kesal lagi. Di kepalanya pasti terbayang muka bos super galaknya karena takut kena cipratan.

Di tempat ini tak ada seorangpun yang tidak mengenalku. Karena aku gampang dikenal, bertubuh tinggi dan besar. Rambut lebat dan kulit hitam pekat. Selain anak-anak sekolah itu, aku juga melihat beberapa anak-anak yang pakaiannya sangat kusam, semuanya memeluk sesuatu. Beberapa lembaran kertas terbungkus rapi yang dimana orang-orang biasa menyebutnya surat kabar. Mereka siap beroperasi menjajakan koran tersebut, salah satu dari mereka mengangkat tangannya ke arah kendaraan yang lalu lalang dengan mengacungkan dua jari. Yang artinya harganya dua ribu rupiah. Sungguh pandangan yang kontradikitf. Mungkin itu hanyalah salah satu potret dunia pendidikan di negara ini.

Aku tersenyum simpul sendiri, mengingat di tahun 2009 ini penuh dengan agenda politik. Di awal bulan yang lalu sebuah pemilihan walikota di kotaku tercinta, kemudian agenda pesta demokrasi rakyat yang tinggal sebulan lagi, lalu pilpres, lalu musyawarah nasional berbagai partai.

Pemilu sebentar lagi, semua menyambutnya dengan ekspresinya masing-masing. Para peserta pemilu (Caleg) bekerja all out, berusaha semaksimal mungkin mengambil simpati masyarakat. Dengan memasang berbagai potret fotonya masing-masing. Semua jalanan penuh dengan baliho caleg, bermacam warna bermacam janji. Bahkan di tempat-tempat larangan pemasangan baliho pun tak luput dari mereka. Apakah mereka tak tahu atau memang pura-pura tidak tahu. Seperti di tempatku ini, banyak sekali para peluncur caleg tersebut datang kepadaku untuk memasang baliho calegnya.

Seandainya saja mereka tahu jika aku lagi menangis, seandainya saja mereka dapat merasakan sakitnya dihunus logam-logam besi ini. Efektifkah pemasang baliho itu ? huhh, bukan simpati yang kamu dapat dariku. Namun suatu antipati, suatu kebencian. Tapi sungguh dengan cara apa engkau bisa menyadari suara jeritanku ini. Aku hanyalah sebuah tumbuhan, sebuah pohon yang menjulang tinggi dan setiap saat membantu seluruh kaummu membersihkan udara yang kalian hirup itu.

Aku harap kalian menyadari itu, mungkin bukan cuma lewat baliho saja. Ayo yang kreatif dong, pakai cara lain tapi yang positif, yang sesuai koridor aturan yang berlaku.

Pagi yang membosankan, puuffff....!


Tuesday, February 10, 2009

Revolusi Adalah Keharusan



Malam ini sangat sepi bikin rindu desahan angin. Suara jengkrik yang mengerik dibalik bebatuan itu juga sudah tidak kedengaran. Di sini aku duduk di beranda pas depan kamarku yang terbuka beratapkan langit. Berada di lantai dua rumahku. Cuma bintang dan bulan yang menemaniku. Tiada hembusan semuanya tenang seakan angin malas melintas. Aku mencoba membuat sebuah apresiasi basi di secarik kertas ini tentang sebuah peradaban sebuah jaman sebuah negara dimana aku tinggal. Yah Indonesia tanah airku.

Aku ingin membuat sedikit coretan tentang negaraku ini yang dari tahun ke tahun masih begitu-begitu saja. Aku pikir tidak ada yang marah jika dalam coretanku kali ini sedikit menyindir negara ini. Siapa suruh mengagung-agungkan itu yang namanya demokrasi.

Hai Indonesia, apa kabarmu hari ini. Aku lihat tampaknya kamu masih seperti yang dulu, masih belum keluar dari image belum merdeka, belum mandiri dan belum berdaulat. Apakah memang kamu takut untuk mandiri ? kasihan sekali kamu yang terus digempur arus globalsasi. Belum bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Terus-terusan jadi pelayan bagi korporasi-korporasi besar. Fuhh...!


Aku ini generasi penerus bangsa, tidak ingin melihat kondisi negara ini hanya sebagai pelayan korporasi-korporasi besar. Semangat revolusi harus ada untuk masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, di kesunyian ini aku ingin mengapresiasikan sebuah konsep pemikiran ku sendiri. Mungkin iseng mungkin basi tapi ini jujur. Sebenarnya para revolusioner muda inilah yang perlu kita perhatikan. Banyak pemuda-pemudi saat ini yang belum paham, yang masih apatis tidak mau tau kondisi bangsa kita sekarang dimana kedaulatan, kemandirian, bahkan kemerdekaan hanyalah kesemuan belaka. Jika tujuh belasan tiba mereka dengan semaraknya meneriakkan kata Merdeka..Merdeka..merdeka !!!, yah memang bangsa kita merdeka atas pendudukan bangsa asing, atas penjajahan fisik namun pada kenyataannya sekarang ini cuma beda format saja. Sekarang ini pendudukan fisik dan militer memang sudah tak ada dan bahkan tak kelihatan lagi namun sebenarnya bangsa kita ini sudah kehilangan kemandirian dan juga sudah kehilangan kedaulatan ekonomi. Yah dalam banyak hal, bangsa Indonesia kita tercinta ini tetap masih tergantung dan juga menggantungkan diri dari kekuatan asing.

Sebagai pemuda-pemudi kita harus menyadari itu semua karena kita inilah generasi penerus bangsa dan bukan tidak mungkin kelak kita bisa menjadi pemimpin / elite nasional. Berbicara pemimpin nasional, mengapa tidak kita mengimpikannya. Pemimpin alternatif nanti menurutku harus berani, cerdas, bermentalkan bebas, merdeka dan mandiri, kolektif, jujur, pekerja keras, amanah, harus segera mengutamakan kemandirian nasional dimana bangsa Indonesia adalah bangsa yang merdeka, mandiri, dan berdaulat penuh serta harus mampu mengurus dirinya sendiri, dapat menghilangkan penyakit bangsa ini yaitu kecanduan utang.

Aku takkan tinggal diam melihat kenyataan pilu ini, aku harus lebih rajin balajar lagi untuk menjadi lebih cerdas, menuntut ilmu setinggi-tingginya karena revolusi adalah keharusan...


Wednesday, February 4, 2009

Bangunin Polisi-Tidur



Ada yang bisa bangunin polisi-tidur ngga ? hehehe. Polisi-tidur yang saya maksud ini tiada lain yang biasa nagkring di lorong-lorong. Pusing juga saya, dapatin polisi-tidur dimana-mana. Alasan warga katanya supaya ngga ada yang balap-balap, banyak anak-anak kecil, atau maling / penjambret ngga berani lewat lorong yang ada polisi-tidurnya. mungkin cuma itu manfaatnya tapi juga banyak bikin ruginya. Contohnya saya ini yang ketiban apes gara-gara polisi-tidur. Saya punya kenangan pahit gara-gari polisi-tidur.

Setahun yang lalu, Saya lewat d lorong rumah temanku pada malam hari kira-kira sekitar jam 11 dengan mengendarai motor vixie-ku. Di lorong temanku itu lampu penerangannya sangat kurang, jadi suasana saat itu agak gelap. Pas saya memasuki lorong itu ternyata banyak anjing warga yang masih berkeliaran. Jantung saya berdebar kencang, takut nanti anjing itu galak. Guk Guk GUk...Tepat sekali tebakanku, anjing itu langsung saja menggonggong ke arahku. Duh, saya bukan maling, sialan nih anjing, tampang anak baik-baik ini di sangkanya maling. Langsung saja saya tancap gas motorku karena anjing ini mengejarku. Sekitar 100 meter ke depan, berhubung suasana di lorong itu agak gelap, Saya tak melihat ternyata ada polisi-tidur yang sangat lebar dan tinggi. Hilang keseimbangan, duBraaaakkkkkkk.....jatuh saya cukup keras membuatku sempat pingsan, motorku rusaknya cukup parah. Saya baru sadar setelah berada di rumah sakit.

Saya cuma heran, apakah ini polisi-tidur ada undang-undangnya yah. Dengan seenaknya warga membuat polisi-tidur malah, dalam satu lorong saja biasanya terdapat 5 sampai 10 polisi-tidur dengan jarak tiap 1 meter. Apakah ada yah aturan ukuran tersendirinya misalnya ketinggian dan lebarnya berapa. Buat teman-teman yang ingin berbagi pendapatnya atau pengalamannya tentang polisi-tidur ini, silahkan comment di bawah ini.

Thursday, January 29, 2009

Optimasi Pelayanan, Menuju Pemerintahan Modern

Optimasi Pelayanan, Menuju Pemerintahan Modern
oleh Drs. H. M. Amin Sikki ( My Luvly Dad )

Apapun alasannya, ke depan kita harus membawa pemerintahan ini pada optimalisasi pelayanan. Pemerintahan modern, tidaklah diadakan untuk melayani dirinya sendiri, melainkan untuk melayani masyarakat. Visi ini harus menjadi komitmen dalam membangun Makassar ke depan. Ini berarti, komitmen Pemerintah Kota senantiasa berupaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi terciptanya ruang dalam mengembangkan kemampuan dan kreativitas masyarakat.

Hakekat pelayanan tidak hanya sebatas urusan administratif saja. Misalnya, kemudahan perizinan, pemberian KTP, dsb. Pelayanan sesungguhnya mencakup areal yang cukup luas. Mulai dari tersedianya fasilitas infrastrukutr, seperti jalanan yang memadai, fasilitas pendidikan yang terjangkau masyarakat, pada pencegahan penyakit menular, sampai pada terciptanya lingkungan yang aman dan tertib. Pokoknya, pelayanan haruslah memungkinkan warga masyarakat mengembangkan potensi dirinya yang lebih kreatif.

Pelayanan haruslah diterjemahkan dalam wujud kestabilan suasana hidup perkotaan. termasuk kesigapan Pemerintah Kota mencermati kemungkinan munculnya radikalisasi yang berujung pada penggulingan pemerintahan yang sah. Kekerasan dalam segala bentuknya, semestinya tidak mendapatkan tempat di bumi Makassar. Gontok-gontokan antar warga masyarakat harus bisa diminimalisir. Termasuk proses perubahan yang terjadi haruslah selalu menganut azas damai.

Pemerintah juga dituntut untuk menjamin diterapkannya perlakuan yang adil kepada setiap warga masyarakat tanpa membedakan status apapun yang melatar belakanginya. jaminan keadilan harus selalu tercermin dalam seluruh gerak pemerintahan kota. Nepotisme dan kolusi sebagai biang kerok hancurnya pemerintahan di masa lalu, harus dibuang jauh-jauh. pada tatran lebih jauh, pelayananharus terus diupayakan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, membantu orang miskin termasuk mengakses para kelas the haven't ke sektor kegiatan produktif.>

Untuk itu, kebijakan ekonomi pemerintah kota diupayakan semaksimal mungkin menguntungkan masyarakat luas. Maksudnya, harus ada upaya riil yang langsung bersentuhan dengan kepentingan warga. misalnya mengendalikan laju inflasi dan mendorong terciptanya lapangan kerja baru. Pokoknya, kebijakan perekonomian harus bisa menjamin ketahanan ekonomi warga kota. pelayanan juga bersinggungan dengan soal kebijakan memelihara sumber daya alam dan lingkungan hidup. Keseimbangan antara eksploitasi dengan reservasi harus menjadi landasan utama. Jangan sampai ada kebijakan membabi buta, misalnya dengan menerbitkan izin semaunya tanpa mengindahkan norma-norma kepentingan masa depan warga.

Kesalahan dalam mengambil kebijakan terhadap sumber daya alam pada saat ini, dampaknya sangat fatal. Generasi esok akan mencaci maki habis-habisan. Sebab, baik buruknya kondisi masa depan kota, bergantung pada sejauhmana kita memaknainya secara arif pada kurun kini.

Membangun Makassar ke depan, memang tidak semudah membalik telapak tangan. Berbagai kendala sudah harus diantisipasi sejak dini. Terutama lebih awal diperlukan konstitusi dan lembaga-lembaga yang mampu mengadopsi semua kepentingan yang bersinggungan dengan layanan masyarakat. Tak kalah pentingnya adalah dukungan kualitas sumber daya aparatur. Lantaran itu, sangatlah bijaksana jika pemerintah terus-menerus diarahkan pada upaya pemahaman misi, visi dan strategi pembangunan Makassar.Proses pembinaan sumber daya aparatur mutlak digalakkan. Tak terkecuali proses rekruitmen sumber daya manusia, dituntut mengacu pada pendekatan profesionalisme. gaya like and dislike dalam proses rekruitmen dan promosi jabatan tidak lebih hanyalah proses pengikisan terhadap cita ideal membangun Makassar yang lebih baik.

Kesemuanya itu harus terbangun di atas landasan pemerintahan yang akuntable. Sebuah pemerintahan yang memiliki kekuatan memadai. Tanpa kepercayaan, tanpa akuntabilitas, pemerintah tidak akan mungkin mempunyai ruang gerak melakukan improvisasi membangun Makassar. Dengan kekuatan yang dimiliki, pemerintah dengan muda dapat mengakses seluruh potensi sumber daya yang tersedia. Kekuatan itu juga akan menumbuhkan rasa percaya diri pemerintah dalam mengelola kegiatan pembangunan.